Jumat, 08 November 2013

JODOH... Antara TAKDIR dan PILIHAN ...

Bismillahirrohmaanirrohiim...

Disini saya mau sharing secuil file yang tersimpan di hape saya.
Semoga bermanfaat.. :)
Oya, mohon maaf sumbernya tidak tercantum..dan saya memang lupa darimana mendapatkannya.



Pernahkan kita bertanya jodoh itu sebenarnya takdir atau pilihan??

Jika jodoh itu takdir, kenapa Rasulullah menyuruh kita memilih?
Mengapa para orang-orang alim selalu menasehatkan agar kita berhati-hati dalam memilih calon pendamping agar tidak salah pilih?
Namun jika jodoh itu pilihan, mengapa kita tidak dapat bersatu dengan orang yang kita pilih jika takdir tidak menggariskan??

Serumit itukah masalah jodoh jika terus dipertanyakan??

Dalam Islam, jodoh diartikan sebagai seseorang yang namanya sudah tertulis di Lauh Mahfuz jauh sebelum kita diciptakan yang akan ditakdirkan menjadi pendamping hidup kita.
Tapi ada juga yang bilang bahwa jodoh itu bisa berubah seiring perubahan yang terjadi pada akhlak kita.
Seperti halnya rezeki yang sudah dituliskan di Lauh Mahfuz sana, jodoh juga harus diusahakan dengan ikhtiar dan do'a, dicari dengan jalan halal.
Karena seperti halnya rezeki yang harus kita cari dengan pekerjaan halal agar rezeki yang kita dapat itu membawa keberkahan untuk hidup kita, begitu pula jodoh..jika ingin beruntung dan bahagia.

Sabda Rasulullah SAW, "Perempuan itu dinikahi karena empat faktor yaitu agama, martabat, harta, dan kecantikannya. Pilihlah perempuan yang baik agamanya. Jika tidak, niscaya engkau akan menjadi orang yang merugi." (HR Bukhari dan Muslim)

Begitupun kita sebagai wanita, ketika kita hendak menerima atau memilih calon suami.
Kita pun harus melihat agamanya (ketaqwaannya), agar dia bisa membimbing kita dan menjadi imam yang baik.
Lalu bagaimana dengan mereka yang bercerai?
Katanya itu berarti mereka sudah tidak berjodoh.

Dari sini aku mulai berpikir, otakku berputar mencari jawaban, agar aku tidak terjebak dalam kebingungan.

Kita tetap diwajibkan "MEMILIH" karena Rasulullah menyuruh kita memilih kalau kita mau bahagia dan beruntung. Dengan kriteria utama yang baik agamanya tentunya.
Masalah dia berjodoh atau tidak dengan kita biarkan takdir yang memainkan peranannya.
Tugas kita hanya berdo'a memohon yang terbaik dan berusaha melakukan yang terbaik sesuai pesan Rasulullah.

Rasulullah telah memberi petunjuk dan nasehat memilih pasangan hidup kepada kita.
Jika setelah tahu kita tetap memilih yang berlawanan karena mengedepankan nafsu dan ego saja, itu berarti kita telah memilih sendiri jalan hidup kita yang berlawanan dengan apa yang sudah Rasulullah anjurkan.
Jadi jangan salahkan takdir, jangan salahkan Alloh jika kamu terjebak ke dalam jalan kerugian.
Karena kamu sendiri yang memilih.

Bukankah Alloh sudah memperingatkan..
Rasulullah pun sudah berpesan.
Kita sendiri yang menentukan pilihan, walaupun hasilnya tetap ada di tangan Tuhan, apakah mempersatukan dengan orang pilihan kita meskipun kita salah jalan, atau justru menggagalkan.
Jika Alloh menyatukan jangan berbangga dan merasa benar dulu, belum tentu Alloh meridhai pilihan kita tadi bukan?
Karena Alloh hanya akan meridhai yang baik-baik saja.
Tapi karena kasih-Nya, Dia mengabulkan apa yang kita usahakan, Dia mengizinkan semua itu terjadi, namun di balik kehendak-Nya tadi, tidakkah kita takut Alloh berkata..
"Inikah maumu? Inikah yang membuatmu bahagia? Inikah yang kau pilih? Aku izinkan semua maumu ini terjadi.. Namun kau juga harus mempertanggungjawabkan semua ini di akherat nanti."

Di dunia Alloh masih menyayangi semua hamba-Nya baik itu yang bertaqwa maupun yang durhaka.
Semua mempunyai hak yang sama.
Tapi di akherat?
Jangan harap..Alloh hanya akan mencintai hamba-Nya yang bertaqwa di dunia bukan yang selalu mendurhakai-Nya.

Jangan selalu menyalahkan takdir, apalagi menyalahkan Alloh.
Karena pada dasarnya kita punya bagian besar dalam menentukan jalan hidup kita.
Bukankah kita sendiri yang memilih menjadi orang baik atau menjadi orang jahat?
Menjadi orang jujur atau pendusta?
Menjadi orang bertaqwa atau durhaka?

Jadi sekarang mau pilih mana?
Pilih Rasulullah? Atau pilihan nafsu kita?
Beruntung atau merugi?
Ta'aruf atau pacaran?


Menyerah pada nasib atau berusaha memperbaiki nasib?
Menyerah pada cinta atau menyerahkan cinta pada-Nya?

Jangan selalu menjadi manusia yang pandai menyalahkan orang lain atas hal buruk yang terjadi dalam hidup kita, apalagi sampai menyalahkan Alloh.
Kita semua dianugerahi akal untuk berpikir, untuk menimbang apa saja kemaslahatan dan kemudharatan yang akan kita tanggung ketika kita hendak memilih atau melangkah.

So, awali dengan cara Islam, jalani dengan aturan Islam..
Semoga kita mendapat akhir yang tentram.
So...Jodoh di Tangan Alloh. Tapi pilihan ada di tangan kita.
Kita sebagai hamba hanya bisa mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya agar bisa mencapai puncak keberuntungan.
Ikhtiar dan doa janganlah lupa dan tetap menjadikan pesan Rasulullah sebagai kriteria utama memilih dan menerima calon pendamping kita.
Karena kehidupan setelah ini yang lebih abadi dan apa yang kita kerjakan di dunia inilah yang menjadi penentu kebahagiaan kita di akherat kelak.

Wallohua'lam bish Shawwab.. 



Rabu, 06 November 2013

Sepuluh Hari Bersamanya

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.
Bahkan untuk "kebetulan-kebetulan" diluar logika kita.
Kebetulan-kebetulan yang mengagumkan.
Karena saya percaya, kebetulan-kebetulan menurut akal kita sejatinya sudah Ia rencanakan dengan sangat rapi.

Ini adalah hari keduaku bersamanya.
Bersama anak berusia 2,5 tahunan itu.
Yah, dia adalah keponakanku yang satu atap denganku.
Seperti biasa, kakakku yang tak lain adalah ibunya mengajar di sebuah sekolah dasar berbasis islami.
Berangkat setengah tujuh pagi, pulang rata-rata jam tiga sore.
Sudah tiga hari yang lalu ibuku pergi keluar kota.
Dan kemarin tanggal merah 1 Muharram 1435 H.
Otomatis sekolah libur.

Kemarin lusa, keponakanku bersedia diantar ke sekolah paud bersamaku.
Aku, yang jarang "bersamanya".
Aku bekerja di sebuah instansi kesehatan.
Jam kerjaku juga tak menentu.
Dan untuk sepuluh hari kedepan ini aku atur jadwalku agar terus masuk shift sore agar bisa berbagi tugas.
Hari pertama lancar.
Anak itu lucu sekali di sekolah.
Pulang sekolah aku ajak kondangan di kampung sebelah.
Sepulang dari kondangan dia pun menurut kala aku bujuk untuk tidur siang.
Tentu aku ikut tidur siang untuk menyiapkan energi shift sore ke kantor setelahnya.

Hari kedua, dia agak rewel sebentar.
Tapi lama-lama rewelnya memudar seiring aku alihkan perhatiannya ke hal-hal menarik lain.
Ternyata tak mudah menjadi ibu yang "sabar" hehe..
Pulang sekolah aku ajak ke kota untuk membayar angsuran motorku di kantor pos.
Sepulang dari kantor pos, dia agak mengantuk rupanya.
Tak selang lama ia dengan mudahnyaia tertidur pulas.
Dan, sewaktu aku bersiap hendak berangkat kerja dia terbangun.
Dia minta makan.
Tumbenan sekali.
Aku yang sedang agak terburu dan berniat menitipkannya di rumah kakakku yang lain sebelum ibunya pulang harus sedikit bersabar dengan kejadian ini :D
Aku suapi dia sampai ia merasa kenyang.
Dan tepat selesainya dia makan, kakakku yang kumaksud tadi datang ke rumah.
Dia bawa ponakanku untuk berganti menjaganya sampai ibunya pulang :)
Hmm...syukur alhamdulillah aku diberi "kemudahan" menjaganya.

Menjadi ibu yang bijak ternyata luar biasa jasanya.
Mungkin, ini salah satu "penggemblengan" hati dari-Nya buatku.
Menunggu...waktu terbaik itu dimana Dia sudah mempercayakan kepadaku untuk merawat makhluk-Nya :)

Secara tidak langsung, anak sekecil ini sudah mengajari saya apa itu menurunkan ego :)

Terkadang Tuhan Menyampaikan pesan-Nya melalui banyak cara.
Terkadang jelas dan terkesan menyakitkan menurut kita, terkadang sangat halus sekali sampai kita tidak menyadarinya :)