Rabu, 06 November 2013

Sepuluh Hari Bersamanya

Tidak ada yang kebetulan di dunia ini.
Bahkan untuk "kebetulan-kebetulan" diluar logika kita.
Kebetulan-kebetulan yang mengagumkan.
Karena saya percaya, kebetulan-kebetulan menurut akal kita sejatinya sudah Ia rencanakan dengan sangat rapi.

Ini adalah hari keduaku bersamanya.
Bersama anak berusia 2,5 tahunan itu.
Yah, dia adalah keponakanku yang satu atap denganku.
Seperti biasa, kakakku yang tak lain adalah ibunya mengajar di sebuah sekolah dasar berbasis islami.
Berangkat setengah tujuh pagi, pulang rata-rata jam tiga sore.
Sudah tiga hari yang lalu ibuku pergi keluar kota.
Dan kemarin tanggal merah 1 Muharram 1435 H.
Otomatis sekolah libur.

Kemarin lusa, keponakanku bersedia diantar ke sekolah paud bersamaku.
Aku, yang jarang "bersamanya".
Aku bekerja di sebuah instansi kesehatan.
Jam kerjaku juga tak menentu.
Dan untuk sepuluh hari kedepan ini aku atur jadwalku agar terus masuk shift sore agar bisa berbagi tugas.
Hari pertama lancar.
Anak itu lucu sekali di sekolah.
Pulang sekolah aku ajak kondangan di kampung sebelah.
Sepulang dari kondangan dia pun menurut kala aku bujuk untuk tidur siang.
Tentu aku ikut tidur siang untuk menyiapkan energi shift sore ke kantor setelahnya.

Hari kedua, dia agak rewel sebentar.
Tapi lama-lama rewelnya memudar seiring aku alihkan perhatiannya ke hal-hal menarik lain.
Ternyata tak mudah menjadi ibu yang "sabar" hehe..
Pulang sekolah aku ajak ke kota untuk membayar angsuran motorku di kantor pos.
Sepulang dari kantor pos, dia agak mengantuk rupanya.
Tak selang lama ia dengan mudahnyaia tertidur pulas.
Dan, sewaktu aku bersiap hendak berangkat kerja dia terbangun.
Dia minta makan.
Tumbenan sekali.
Aku yang sedang agak terburu dan berniat menitipkannya di rumah kakakku yang lain sebelum ibunya pulang harus sedikit bersabar dengan kejadian ini :D
Aku suapi dia sampai ia merasa kenyang.
Dan tepat selesainya dia makan, kakakku yang kumaksud tadi datang ke rumah.
Dia bawa ponakanku untuk berganti menjaganya sampai ibunya pulang :)
Hmm...syukur alhamdulillah aku diberi "kemudahan" menjaganya.

Menjadi ibu yang bijak ternyata luar biasa jasanya.
Mungkin, ini salah satu "penggemblengan" hati dari-Nya buatku.
Menunggu...waktu terbaik itu dimana Dia sudah mempercayakan kepadaku untuk merawat makhluk-Nya :)

Secara tidak langsung, anak sekecil ini sudah mengajari saya apa itu menurunkan ego :)

Terkadang Tuhan Menyampaikan pesan-Nya melalui banyak cara.
Terkadang jelas dan terkesan menyakitkan menurut kita, terkadang sangat halus sekali sampai kita tidak menyadarinya :)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar